Dpnews Indonesia || Cianjur – Novel Saep Lukman berjudul _Cinta, Kopi, dan Kekuasaan: Kesaksian Nyai Apun Gencay_ membuka lembar sejarah yang jarang dibicarakan: sisi kelam perdagangan kopi Cianjur di era kolonial. Karya ini tidak berhenti pada kisah asmara. Ia menelanjangi sistem tanam paksa, kerja rodi, dan persekongkolan elite lokal yang menjadikan biji kopi sebagai alat kuasa.
Jurnalis sejarah Hendi Jo menegaskan, memori kolektif tentang kopi Cianjur terlalu sering diromantisasi sebagai simbol kejayaan ekonomi Priangan. Padahal di balik catatan ekspor yang mentereng, ada jerit petani yang dipaksa meninggalkan pangan demi monokultur kopi. “Kopi memang mengangkat nama Cianjur ke panggung dunia, tapi harganya adalah punggung rakyat yang bengkok oleh pajak dan cambuk mandor,” ujarnya.
Novel ini hadir sebagai tandingan bagi sejarah resmi yang kaku dan elitis. Saep Lukman memilih suara yang lirih tapi menusuk: Nyai Apun Gencay. Ia bukan pahlawan besar. Ia perempuan kampung yang tumbuh tanpa ayah, dibesarkan ibu yang menyimpan luka zaman, dan dipaksa dewasa oleh keadaan. Lewat Apun, pembaca diajak menapaki kehilangan yang tak pernah dicatat arsip kolonial.
Saep Lukman menempatkan alam bukan sekadar latar estetik. Huma, hutan, dan kebun kopi ditulis sebagai kosmos yang bernapas, dihormati, diajak bicara, bahkan ditakuti. Harmoni itu pecah ketika logika dagang VOC masuk. Tanah yang dulu beragam fungsi dipaksa seragam. Rakyat tak lagi menanam untuk hidup, tapi menanam karena perintah. Di titik ini, kopi berubah dari tanaman menjadi instrumen penunduk.
Menurut Saep, kopi dan kekuasaan di Nusantara selalu berselingkuh. Biji itu masuk Jawa dan Cianjur bukan karena selera, tapi karena kalkulasi dagang VOC sebagai korporasi multinasional pertama. Para menak lokal menyambutnya karena ada simbiosis kepentingan. Sayangnya, tetes keuntungan tak pernah jatuh ke cangkul petani. “Kerja sama itu subur di atas, gersang di bawah,” tegasnya.
Narasi kebanggaan atas “Cianjur penghasil kopi terbaik” menurutnya harus dibaca ulang secara jujur. Pertumbuhan ekonomi masa itu hanya dinikmati bupati, pedagang perantara, dan kompeni. Sementara catatan tentang rakyat yang kelaparan karena ladang singkongnya digusur kopi justru absen dari buku-buku sejarah. “Kopi saat itu bukan atas nama Cianjur. Ia atas nama kekuasaan,” kata Saep.
Konflik dalam novel tidak meledak lewat perang, tapi merembet pelan lewat obrolan di dangau, lewat tatapan, lewat keputusan kecil yang berisiko. Tokoh Yudira menjadi cermin kegelisahan itu. Ia menyaksikan ketidakadilan bukan dari podium, tapi dari tanah yang ia cangkul sendiri. Perlawanan Yudira bukan heroisme dadakan, melainkan pergulatan panjang antara nurani dan rasa takut.
Bagi Saep Lukman, novel ini adalah pengingat untuk industri kopi hari ini. Tren ngopi anak muda, festival kopi, hingga label “specialty” tidak boleh buta sejarah. Pembangunan dan bisnis yang sehat harus berangkat dari keadilan rantai pasok, keberlanjutan lahan, dan penghormatan pada petani sebagai fondasi. Jika tidak, kita hanya mengulang pola lama dengan kemasan baru.
_Cinta, Kopi, dan Kekuasaan_ disebut sebagai novel pertama yang membedah sejarah kopi Cianjur secara utuh: dari politik dagang, luka sosial, hingga lanskap batin manusia. Saep mengaku buku ini sudah menembus hampir 5000 eksemplar. Ia berharap setiap teguk kopi hari ini diminum dengan kesadaran. “Di balik pahit dan harumnya, ada air mata, keringat, dan sejarah panjang tentang siapa yang berkuasa dan siapa yang dikorbankan,” tutupnya.











