Scroll untuk baca artikel
BeritaPekerja Migran Indonesia

​Sisi Gelap Penempatan Ilegal: Dugaan Perbudakan Modern PMI di Arab Saudi Terbongkar

55
×

​Sisi Gelap Penempatan Ilegal: Dugaan Perbudakan Modern PMI di Arab Saudi Terbongkar

Sebarkan artikel ini

Pekerja Migran Indonesia

​Dpnews Indonesia || Riyadh – Praktik dugaan perbudakan modern kembali mencoreng wajah penempatan Pekerja Migran Indonesia (PMI) di kawasan Timur Tengah, khususnya Arab Saudi. Kasus ini mencuat setelah sejumlah Pekerja Migran Indonesia yang bekerja sebagai Asisten Rumah Tangga (ART) melaporkan tindakan tidak manusiawi yang dilakukan oleh oknum supervisor di perusahaan penyalur (Syarikah) setempat.

​Para PMI yang diduga diberangkatkan secara non-prosedural ini dilaporkan tidak hanya minim bekal kemampuan bahasa dan keterampilan kerja, namun juga menjadi sasaran kemarahan sistematis. Alih-alih mendapatkan pembinaan saat dikembalikan oleh majikan, para pahlawan devisa ini justru menghadapi intimidasi dan hukuman fisik yang melampaui batas kewajaran.

Baca juga :  KOPRI PC PMII Cianjur Desak Keadilan untuk Korban Kekerasan Seksual Anak

Keterangan gambar foto ilustrasi

​Kondisi psikologis para pekerja berada di titik nadir; banyak di antaranya mengalami depresi berat akibat tekanan mental dari pihak agensi yang seharusnya melindungi mereka. Teriakan minta tolong melalui rekaman video dan pesan singkat kini terus mengalir ke tanah air, memohon evakuasi dan perlindungan.

Baca juga :  Kurang Dari 24 Jam, Sat Reskrim Polres Purwakarta Berhasil Ringkus Pelaku Curanmor

​Menanggapi situasi krusial ini, Doel, aktivis pemerhati migran dari Posko Dpnews Indonesia, menyatakan keprihatinan mendalam atas lemahnya sistem perlindungan bagi warga negara di luar negeri. Menurutnya, perlakuan yang diterima para PMI di negara penempatan sudah mengarah pada praktik perdagangan orang.

​”Sudahlah mereka berangkat secara tidak resmi, di sana pun mereka malah dibuat depresi. Ini maksudnya apa? Jika memang tidak mau disebut memperbudak, harusnya mereka dijaga, diberikan semangat, bukan kekerasan. Ini seperti kembali ke zaman jahiliyah di mana hamba sahaya direnggut kebebasannya,” tegas Doel dengan nada geram.

Baca juga :  Satu Keluarga di Purwakarta Terkapar Akibat Jalan Berlubang, Balita 2 Tahun Ikut Jadi Korban

​Ia juga menyoroti arogansi para supervisor di Syarikah dan menuntut pertanggungjawaban penuh dari para pelaku pemroses di Indonesia.

“Kejadian ini menegaskan bahwa praktik perdagangan manusia itu nyata. Mereka dieksploitasi dengan sistem ‘jual putus’ tanpa kontrak kerja yang jelas,” tambahnya.

Baca juga :  Kebakaran Rumah di Maja Selatan Menelan Korban Jiwa

​Berdasarkan laporan yang dihimpun hingga Sabtu, 11 April 2026, berikut adalah poin-poin krusial yang menimpa para pekerja migran tersebut:

​​Jeritan minta tolong yang terus menggema hingga hari ini menjadi alarm keras bagi pemerintah dan instansi terkait. Publik kini mempertanyakan sejauh mana efektivitas pencegahan pemberangkatan ilegal dan bagaimana langkah konkret negara dalam memutus rantai perbudakan modern yang terus berulang.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada tindakan evakuasi skala besar terhadap para korban yang terjebak dalam pusaran konflik di agensi-agensi tersebut. Pertanyaan besarnya tetap sama: Sampai kapan drama kemanusiaan ini akan terus berakhir?

Baca juga :  Dandim 0617 Majalengka Sebagai Inspektur Upacara Peringatan Hari Bela Negara Ke-76
Facebook Comments Box
error: Content is protected !!