Scroll untuk baca artikel
BeritaNasional

Niat Puasa Sunnah Syawal: Lafal Arab, Latin, serta Arti yang Benar

121
×

Niat Puasa Sunnah Syawal: Lafal Arab, Latin, serta Arti yang Benar

Sebarkan artikel ini

Dpnews Indonesia || Umat Muslim di Indonesia kini memasuki bulan Syawal 1447 H pasca perayaan Idul Fitri. Salah satu amalan sunnah yang dianjurkan adalah puasa sunnah Syawal, yakni puasa enam hari di bulan Syawal.

Puasa ini memiliki keutamaan besar sebagaimana disebutkan dalam hadis Nabi Muhammad SAW: “Barang siapa berpuasa Ramadhan kemudian mengikutinya dengan puasa enam hari di bulan Syawal, maka seolah-olah ia berpuasa setahun penuh” (HR Muslim).

Baca juga :  Tanggap Bencana, Personel Koramil 1704 Talaga Bantu Evakuasi Tanah Longsor

Puasa sunnah Syawal dapat dilakukan mulai tanggal 2 Syawal hingga akhir bulan Syawal (sekitar 18 April 2026, tergantung penetapan akhir bulan). Penetapan 1 Syawal 1447 H bervariasi antar organisasi: Muhammadiyah menetapkan Idul Fitri pada Jumat, 20 Maret 2026, sehingga puasa Syawal dapat dimulai Sabtu, 21 Maret 2026.

Sementara itu, versi pemerintah dan NU mengindikasikan Idul Fitri pada Sabtu, 21 Maret 2026, dengan puasa Syawal dimulai Minggu, 22 Maret 2026. Puasa ini boleh dilakukan secara berurutan maupun terpisah-pisah selama belum memasuki bulan berikutnya.

Baca juga :  KUA Kecamatan Mande dan Cikalongkulon Melaksanakan Apel Hari Amal Bakti Kemenag ke-78 Di Cikundul Cijagang

Bacaan Niat Puasa Sunnah Syawal

Niat puasa sunnah Syawal dibaca pada malam hari (sebelum subuh) atau pagi hari sebelum zawal (sebelum zuhur), selama belum makan, minum, atau hal-hal yang membatalkan puasa. Berikut lafal yang umum digunakan:

Niat untuk malam hari (untuk esok hari):

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ الشَّوَّالِ لِلَّهِ تَعَالَى

Latin: Nawaitu shauma ghadin ‘an adâ’i sunnatis Syawwâli lillâhi ta’âlâ.

Artinya: “Aku berniat puasa sunnah Syawal esok hari karena Allah Ta’ala.”

Baca juga :  Shin Tae-yong Optimis John Herdman Mampu Bangkitkan Timnas Indonesia

Niat untuk siang hari (jika belum makan/minum sejak subuh):

نَوَيْتُ صَوْمَ هَذَا الْيَوْمِ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ الشَّوَّالِ لِلَّهِ تَعَالَى

Latin: Nawaitu shauma hâdzal yaumi ‘an adâ’i sunnatis Syawwâli lillâhi ta’âlâ.

Artinya: “Aku berniat puasa sunnah Syawal hari ini karena Allah Ta’ala.”

Baca juga :  Peduli Kesehatan, Bhabinkamtibmas Maja Selatan Dampingi Kegiatan Fogging di Desa Binaan

Bagi yang berniat melaksanakan enam hari secara spesifik (misalnya berurutan), dapat menggunakan variasi:

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ سِتَّةٍ مِنْ شَوَّالٍ لِلَّهِ تَعَالَى

Latin: Nawaitu shauma ghadin ‘an adâ’i sittatin min Syawwâlin lillâhi ta’âlâ.

Artinya: “Aku berniat puasa esok hari untuk menunaikan puasa sunnah enam hari dari bulan Syawal karena Allah Ta’ala.”

Baca juga :  Komisi IV DPRD Bekasi Soroti Kasus 78 TKA Ilegal, Minta Perusahaan Ditindak Tegas

Niat cukup dalam hati, namun ulama menganjurkan melafalkannya untuk lebih mantap. Puasa sunnah ini tidak boleh dilakukan pada 1 Syawal karena hari raya Idul Fitri diharamkan berpuasa.

Umat Muslim diimbau melaksanakan amalan ini dengan ikhlas untuk menambah pahala pasca Ramadhan. Untuk kepastian tanggal, disarankan mengikuti pengumuman resmi dari Kementerian Agama atau organisasi keagamaan terdekat.

Baca juga :  Diduga Diberangkatkan Non-Prosedural, PMI Asal Karawang di Oman Sakit Parah dan Minta Dipulangkan
Facebook Comments Box
error: Content is protected !!