Dpnews Indonesia || Jakarta – Pemerintah Indonesia terus mendorong pengembangan Dimethyl Ether (DME) sebagai bahan bakar rumah tangga pengganti Liquefied Petroleum Gas (LPG) atau gas Elpiji. Langkah ini bertujuan mengurangi ketergantungan impor LPG yang saat ini mencapai sekitar 75% dari total kebutuhan nasional.
DME merupakan senyawa eter paling sederhana dengan rumus kimia CH₃OCH₃, yang diproduksi melalui proses gasifikasi batu bara berkalori rendah. Menurut Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), DME memiliki sifat kimia dan fisika yang mirip dengan LPG, sehingga dapat digunakan pada kompor dan peralatan rumah tangga existing tanpa perubahan signifikan.
Proyek hilirisasi batu bara menjadi DME telah menjadi bagian dari Proyek Strategis Nasional. Pembangunan dipimpin oleh PT Bukit Asam (PTBA) bekerja sama dengan PT Pertamina, dengan lokasi utama di Tanjung Enim, Sumatera Selatan. Proyek ini ditargetkan mulai groundbreaking pada awal 2026 dan beroperasi komersial sekitar 2027-2028, dengan kapasitas produksi sekitar 1,4 juta ton DME per tahun yang setara dengan pengganti sekitar 1 juta ton LPG.
Keunggulan utama DME adalah bahan bakunya berasal dari sumber daya alam dalam negeri yang melimpah, sehingga dapat menghemat devisa negara hingga triliunan rupiah per tahun serta memperkuat ketahanan energi. Uji coba pemakaian DME 100% sebelumnya telah dilakukan di beberapa daerah dan mendapat respons positif dari masyarakat.
Meski demikian, pemerintah masih membahas skema implementasi, termasuk kemungkinan blending bertahap antara DME dan LPG. Proyek ini diharapkan tidak hanya mengurangi impor, tetapi juga menciptakan multiplier effect ekonomi melalui penyerapan tenaga kerja dan peningkatan nilai tambah batu bara.
Dengan percepatan ini, DME diproyeksikan menjadi salah satu pilar diversifikasi energi rumah tangga Indonesia di masa mendatang.











