Dpnews Indonesia || Teheran – Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengirimkan surat terbuka kepada rakyat Amerika Serikat pada Rabu (1/4/2026). Surat tersebut dirilis beberapa jam sebelum Presiden AS Donald Trump dijadwalkan menyampaikan pidato pertamanya sejak perang di Timur Tengah pecah pada 28 Februari 2026.
Surat berbahasa Inggris yang dibagikan melalui Press TV dan akun resmi Pezeshkian di platform X itu menekankan pesan diplomasi publik langsung kepada masyarakat AS, di tengah konflik yang melibatkan serangan AS-Israel terhadap infrastruktur Iran.
Berikut poin-poin penting dalam surat tersebut:
1. Iran bukan ancaman dan tidak pernah memulai perang
Pezeshkian menegaskan Iran sebagai salah satu peradaban tertua yang terus berlanjut dalam sejarah manusia. “Dalam sejarah modernnya, Iran tidak pernah memilih jalan agresi, ekspansi, kolonialisme, atau dominasi. Iran tidak pernah memulai perang,” tulisnya. Ia menyebut respons militer Iran sebagai tindakan bela diri yang terukur terhadap agresi yang diterima.
2. Tidak ada permusuhan terhadap rakyat AS
“Rakyat Iran tidak menyimpan permusuhan terhadap bangsa lain, termasuk rakyat AS, Eropa, atau negara-negara tetangga,” kata Pezeshkian. Ia menekankan prinsip budaya Iran yang membedakan antara pemerintah dan rakyat biasa.
3. Narasi “ancaman Iran” adalah produk buatan
Penggambaran Iran sebagai ancaman dinilai tidak sesuai dengan fakta sejarah maupun realitas saat ini. Menurutnya, persepsi itu diciptakan untuk membenarkan tekanan politik, dominasi militer, industri senjata, dan penguasaan pasar strategis.
4. Pertanyaan soal kepentingan rakyat AS
Surat itu secara langsung bertanya: “Kepentingan rakyat Amerika mana yang sebenarnya dilayani oleh perang ini?” Pezeshkian juga mempertanyakan apakah kebijakan “America First” Trump benar-benar menjadi prioritas pemerintah AS saat ini. Ia menyebut serangan terhadap fasilitas energi, industri, dan fasilitas pengobatan kanker sebagai “kejahatan perang” yang merugikan rakyat Iran dan menimbulkan ketidakstabilan regional serta global.
5. Kritik terhadap peran Israel dan sejarah hubungan AS-Iran
Pezeshkian menyebut AS bertindak sebagai “proxy” Israel dan menuding Israel berusaha membebani AS demi kepentingannya sendiri. Ia juga mengingatkan ketegangan historis, termasuk kudeta 1953 yang didukung AS, dukungan terhadap Saddam Hussein, sanksi panjang, hingga dua kali agresi saat negosiasi nuklir.
6. Ajakan dialog dan pilihan perdamaian
Pezeshkian mengajak warga AS berbicara langsung dengan orang yang pernah mengunjungi Iran atau mengamati kontribusi diaspora Iran di universitas dan perusahaan teknologi Barat. “Hari ini, dunia berada di persimpangan. Melanjutkan konfrontasi lebih mahal dan sia-sia daripada sebelumnya,” tulisnya. Ia menegaskan Iran telah bertahan selama berabad-abad dan akan terus bertahan.
Surat terbuka ini merupakan langkah diplomasi publik Iran di tengah “perang narasi” yang berlangsung paralel dengan konflik militer. Hingga berita ini ditayangkan, belum ada tanggapan resmi dari pemerintah AS terhadap isi surat tersebut.











