Dpnews Indonesia || Cianjur – Kabar memprihatinkan kembali menyelimuti dunia Pekerja Migran Indonesia (PMI). Seorang wanita berinisial HAY, warga Desa Hegarmanah, Kecamatan Bojongpicung, Kabupaten Cianjur, diduga menjadi korban kekerasan berat oleh majikannya saat bekerja di bawah naungan Syarekah Abdal, Arab Saudi.
Kasus ini mencuat setelah kesaksian para rekan sejawat korban yang berada di satu Syarekah memberikan laporan ke Posko Pengaduan DpNews Indonesia pada pertengahan Maret 2026.

Menurut keterangan saksi, Mak HAY—begitu ia akrab disapa—datang ke penampungan Syarekah dalam kondisi yang sangat mengenaskan. Ia terlihat masih mengenakan pakaian rumah sakit dengan luka jahitan yang masih basah di bagian kepala, serta luka lebam yang memenuhi sekujur tubuhnya.
“Kami melihat langsung kondisinya. Sangat tragis, beliau datang masih pakai baju RS dan banyak luka,” ujar salah satu rekan PMI yang meminta identitasnya dirahasiakan demi keamanan.
Ironisnya, pihak Syarekah diduga berupaya menutupi kejadian ini dengan menginstruksikan kepada seluruh penghuni agar bungkam dan tidak mengadukan kondisi Mak HAY kepada pihak luar maupun otoritas terkait.
Luka-luka yang dialami Mak HAY menjadi bukti kuat adanya dugaan kekerasan fisik yang luar biasa. Selain itu, kasus ini juga menyingkap tabir gelap proses pemberangkatan yang diduga kuat dilakukan secara non-prosedural. Ketidakadaan jaminan perlindungan dan keselamatan selama bekerja menjadi sorotan utama bagi para aktivis buruh migran.
Pada 10 Maret 2026, tim Posko Pengaduan mendapatkan informasi bahwa Mak HAY telah dipulangkan ke Indonesia. Namun, pemulangan tersebut dilakukan di saat kondisi kesehatan korban belum pulih sepenuhnya. Hal yang menambah kejanggalan adalah sikap pihak keluarga yang terkesan menutup-nutupi kondisi sebenarnya saat dihubungi oleh awak media.
Menanggapi hal tersebut, awak media melakukan konfirmasi kepada Pemerintah Desa Hegarmanah. Sekretaris Desa Hegarmanah, Iyus, menyatakan keterkejutannya atas kabar ini. Ia menegaskan bahwa pihak desa sebelumnya tidak menerima laporan mengenai kejadian yang menimpa warganya tersebut.
“Kami sangat prihatin dan dengan tegas menyatakan tidak mengetahui kejadian ini sebelumnya. Kami berjanji akan segera melakukan penelusuran mendalam guna memperjelas nasib warga kami. Ini menyangkut keadilan dan kami menduga ada indikasi Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO),” tegas Iyus saat ditemui di kantor desa.
Saat ini, berbagai pihak mendesak otoritas terkait untuk segera turun tangan melakukan investigasi menyeluruh terhadap agen yang memberangkatkan Mak HAY serta mendalami keterlibatan pihak Syarekah di Arab Saudi dalam upaya penyembunyian kasus kekerasan ini.











