Dpnews Indonesia || Cianjur – Lapas Kelas IIB Cianjur kembali mengambil peran aktif dalam mendukung ketahanan pangan nasional melalui penambahan komoditas peternakan baru. Sebanyak 1.000 ekor ayam pedaging resmi dihadirkan dalam kegiatan pembinaan kemandirian yang berlangsung hari ini.
Langkah ini menjadi wujud nyata implementasi 15 Program Aksi Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan yang menekankan kemandirian dan produktivitas di lingkungan pemasyarakatan.
Penambahan ayam pedaging tersebut tidak semata bertujuan meningkatkan stok pangan internal. Lebih dari itu, program ini dirancang sebagai ruang belajar praktis bagi warga binaan pemasyarakatan atau WBP. Melalui perawatan, pemberian pakan, hingga manajemen penjualan, warga binaan diajak memahami siklus usaha peternakan secara menyeluruh.
Kepala Lapas Kelas IIB Cianjur, Prayogo Mubarak, hadir langsung memantau jalannya kegiatan bersama jajaran petugas. Dalam penjelasannya, beliau menegaskan bahwa inisiatif ini adalah bagian dari strategi pembinaan berkelanjutan. “Kami ingin warga binaan keluar nanti bukan hanya membawa bekal perubahan sikap, tapi juga keterampilan yang bisa menopang hidup mereka di masyarakat,” katanya.
Menurut Prayogo, program peternakan ini memberi dua manfaat sekaligus. Pertama, memperkuat ketersediaan bahan makanan di dalam lapas sehingga mengurangi ketergantungan pada pasokan luar. Kedua, menciptakan nilai ekonomi yang dapat dirasakan langsung oleh warga binaan melalui premi dari hasil pengelolaan dan penjualan komoditas.
Konsep pembinaan kemandirian yang dijalankan Lapas Cianjur memang mengutamakan keterlibatan aktif WBP. Mereka tidak ditempatkan sebagai penerima bantuan, melainkan sebagai pengelola yang bertanggung jawab atas proses produksi. Pendekatan ini diharapkan menumbuhkan disiplin, tanggung jawab, dan semangat kewirausahaan.
Secara lebih luas, program ini sejalan dengan upaya pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan dari tingkat paling dasar. Lapas, yang selama ini identik dengan fungsi pengamanan, kini juga berfungsi sebagai pusat pelatihan produktif yang menghasilkan kontribusi nyata bagi kebutuhan pangan.
Keterampilan yang diperoleh warga binaan di bidang peternakan juga memiliki nilai jangka panjang. Setelah masa pidana selesai, mereka memiliki modal pengetahuan untuk membuka usaha mandiri atau bekerja di sektor pertanian dan peternakan. Ini menjadi salah satu bentuk reintegrasi sosial yang lebih bermakna.
Selain ayam pedaging, Lapas Cianjur sebelumnya juga telah mengembangkan beberapa komoditas lain sebagai bagian dari program ketahanan pangan. Keberlanjutan program menjadi fokus utama agar hasil yang dicapai tidak berhenti pada seremonial, melainkan berdampak pada peningkatan kesejahteraan warga binaan.
Dengan tambahan 1.000 ekor ayam pedaging ini, Lapas Kelas IIB Cianjur berharap bisa menjadi contoh bagi unit pemasyarakatan lain dalam mengintegrasikan pembinaan dengan pemberdayaan ekonomi. Komitmen tersebut sekaligus menegaskan bahwa pemasyarakatan bukan hanya tempat pembinaan, tapi juga ruang untuk tumbuh dan berkarya kembali.











