Dpnews Indonesia || Jakarta – Konflik bersenjata antara Amerika Serikat dan Iran yang berlangsung sejak akhir Februari 2026 tidak hanya memicu gejolak harga minyak global, tetapi juga menyebabkan pelemahan luas pada mata uang negara-negara emerging markets, termasuk Rupiah Indonesia.
Meski Rupiah sempat menyentuh level terlemah baru di kisaran Rp 17.000–Rp 17.500 per dolar AS, mata uang Asia lainnya juga mengalami tekanan serupa. Rupee India dan Peso Filipina mencatat rekor terendah, sementara Won Korea Selatan, Baht Thailand, dan Ringgit Malaysia turut tertekan.
Analis menyebut pelemahan ini dipicu oleh dua faktor utama: lonjakan harga minyak mentah akibat gangguan pasokan melalui Selat Hormuz, serta penguatan dolar AS sebagai aset safe haven di tengah ketidakpastian geopolitik. Negara-negara importir minyak di Asia, yang mengandalkan pasokan dari Timur Tengah, menjadi yang paling terdampak.
Bank sentral di berbagai negara, termasuk Bank Indonesia, telah melakukan intervensi di pasar valuta asing untuk meredam volatilitas. Namun, tekanan ini diperkirakan akan berlanjut selama konflik belum mereda sepenuhnya.
Di sisi lain, penguatan dolar AS juga mencerminkan ekspektasi bahwa Federal Reserve mungkin menunda pemangkasan suku bunga lebih lama akibat risiko inflasi yang lebih tinggi dari harga energi. Kondisi ini semakin memperburuk aliran modal keluar dari pasar berkembang.
Meski demikian, beberapa analis mencatat peluang pemulihan jika negosiasi damai menunjukkan kemajuan signifikan. Hingga saat ini, pasar masih menanti perkembangan lebih lanjut dari upaya de-eskalasi di Timur Tengah.











