Dpnews Indonesia || Eskalasi konflik Timur Tengah mencapai level baru pada Minggu pagi ini ketika serangkaian ledakan keras kembali mengguncang kota-kota utama di kawasan Teluk Persia. Dubai (Uni Emirat Arab), Doha (Qatar), dan Manama (Bahrain) menjadi sasaran serangan balasan Iran yang disebut sebagai respons atas pembunuhan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei oleh serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel.
Menurut laporan wartawan AFP dan Al Jazeera di lapangan, ledakan terdengar berulang kali di ketiga ibu kota tersebut sejak dini hari. Asap hitam tebal terlihat mengepul di selatan Doha, sementara di Dubai, kepulan asap teramati di sekitar Pelabuhan Jebel Ali dan kawasan Palm Jumeirah. Di Manama, ledakan dilaporkan mengguncang area dekat pangkalan militer AS.
Serangan ini merupakan gelombang kedua setelah Iran melancarkan serangan rudal dan drone masif pada Sabtu (28/2/2026) lalu, menargetkan puluhan pangkalan militer AS di kawasan Teluk.
Kementerian Pertahanan UAE melaporkan Iran menembakkan 137 rudal balistik dan 209 drone ke wilayahnya, sementara Qatar berhasil mencegat sebagian besar dari 65 rudal dan 12 drone yang ditujukan ke sana, meski delapan orang terluka, satu di antaranya dalam kondisi kritis.
Bandara Internasional Dubai, salah satu bandara tersibuk di dunia, mengalami kerusakan akibat serangan, memaksa evakuasi penumpang dan penangguhan semua penerbangan. Bandara Abu Dhabi juga melaporkan korban jiwa dan luka-luka. Di Bahrain, target utama termasuk pusat layanan Armada Kelima AS.
Iran melalui Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menyatakan serangan ini sebagai balas dendam atas “agresi brutal” yang menewaskan Khamenei dan pejabat tinggi lainnya. Teheran menegaskan serangan difokuskan pada aset militer AS di negara-negara Teluk yang menjadi tuan rumah pangkalan tersebut.
Pemerintah UAE, Qatar, dan Bahrain mengutuk keras serangan tersebut sebagai pelanggaran kedaulatan. Mereka melaporkan sistem pertahanan udara berhasil mencegat sebagian besar ancaman, meski puing-puing rudal menyebabkan kerusakan material dan korban sipil.
Konflik ini memicu kekhawatiran akan perang regional yang lebih luas. Penerbangan di seluruh Timur Tengah terganggu, dan pasar minyak global bereaksi dengan lonjakan harga akibat ketidakpastian pasokan dari kawasan penghasil minyak terbesar dunia.
Situasi masih berkembang, dengan Israel dilaporkan melancarkan serangan balik ke Tehran. Pemantauan internasional terus dilakukan untuk mencegah eskalasi lebih lanjut.











