Scroll untuk baca artikel
BeritaNasional

Proyek Dapur MBG Cibuaya dan Dugaan Penggunaan Limbah Berbahaya

428
×

Proyek Dapur MBG Cibuaya dan Dugaan Penggunaan Limbah Berbahaya

Sebarkan artikel ini

Dpnews Indonesia || Karawang – Proyek pembangunan Dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Cibuaya, Kabupaten Karawang, kini tengah berada di bawah pengawasan ketat publik.

Proyek yang diniatkan untuk mendukung program pemenuhan gizi masyarakat ini justru menuai polemik setelah diduga menggunakan limbah batu bara sebagai material urukan.

Baca juga :  Jaga Kelestarian Citarum, Dansektor 6 Periksa Pengelolaan Limbah SPPG Hegarmanah 1 Cianjur

Berdasarkan pantauan tim di lapangan, lokasi pembangunan Dapur MBG menunjukkan pemandangan yang kontras dengan tujuan kesehatan program tersebut.

Material berwarna gelap yang diduga kuat merupakan limbah batu bara (FABA – Fly Ash and Bottom Ash) terlihat digunakan secara terbuka untuk meratakan lahan.

Baca juga :  Operasi Jaran Lodaya 2024, Polres Purwakarta Ringkus Pelaku Curanmor

Warga sekitar mulai menyuarakan kekhawatiran mereka. Debu dari material tersebut dikhawatirkan tertiup angin ke pemukiman dan mencemari sumber air warga.

“Kami khawatir kalau itu benar limbah. Debunya hitam, kalau kena angin masuk ke rumah. Takutnya malah jadi penyakit buat warga di sini,” ujar salah seorang warga setempat yang meminta identitasnya dirahasiakan.

Baca juga :  Kapolres Lhokseumawe dan Dandim 0103/Aceh Utara Jadi Korban Pemukulan Massa Saat Pembubaran Konvoi Bendera GAM

Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kabupaten Karawang sebenarnya telah melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke lokasi tak lama setelah laporan awal muncul.

Namun, efektivitas sidak tersebut kini dipertanyakan. Alih-alih berhenti, aktivitas penggunaan material diduga limbah tersebut dilaporkan justru semakin masif.

Baca juga :  Rapat Laporan Pertanggungjawaban UPK DAPM Dalam Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat

Hal ini memunculkan spekulasi di tengah publik: Apakah sidak tersebut hanya sekadar formalitas tanpa tindakan administratif yang tegas?

Limbah industri, khususnya sisa pembakaran batu bara, tanpa prosedur pengelolaan yang tepat merupakan pelanggaran serius terhadap regulasi lingkungan hidup.

Baca juga :  Best Lawyers Club Indonesia (BLCI) Resmi Hadir di Cianjur, Siap Jadi Rumah Advokat dan Mitra Kritis Penegakan Hukum

Landasan Hukum:UU No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup:Pasal 59 ayat (1): Mewajibkan setiap penghasil limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun) untuk melakukan pengelolaan sesuai standar.Pasal 98 ayat (1): Memberikan ancaman pidana penjara minimal 3 tahun dan maksimal 10 tahun, serta denda hingga Rp.10 miliar bagi siapa saja yang sengaja mengakibatkan pencemaran atau kerusakan lingkungan.

Baca juga :  Penutupan Sementara di Perempatan Lampu Merah SGC oleh Satlantas Polres Metro Bekasi dan Dishub

PP No. 22 Tahun 2021: Mengatur bahwa meskipun beberapa jenis limbah batu bara telah keluar dari kategori B3, pemanfaatannya tetap harus memenuhi standar teknis dan perizinan lingkungan yang ketat agar tidak mencemari ekosistem.

Kasus ini menjadi ujian integritas bagi komitmen pengawasan lingkungan di Kabupaten Karawang. Bagaimana mungkin sebuah proyek yang ditujukan untuk “Gizi Masyarakat” justru dibangun di atas material yang berpotensi merusak kesehatan lingkungan?

Baca juga :  Timnas Indonesia Siap Hadapi Bulgaria di Final FIFA Series 2026

Hingga berita ini diturunkan, publik masih menanti langkah konkret dari DLHK Karawang. Apakah akan ada penghentian paksa dan pembersihan lahan (clean up), ataukah aturan akan kalah oleh kepentingan proyek pembangunan?

Tim redaksi akan terus mengawal perkembangan kasus ini demi memastikan hak masyarakat atas lingkungan yang bersih dan sehat tetap terpenuhi.

Baca juga :  Karakter Kebangsaan dan Bela Negara Capacity Buildding Bagi Kepala Desa dan Aparatur Desa
Facebook Comments Box
error: Content is protected !!