Dpnews Indonesia || Bekasi – Gelombang aduan dari Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang terjebak di Negara Irak semakin tak terbendung. Posko Pengaduan Dpnews Indonesia melaporkan adanya peningkatan drastis kiriman video testimoni berisi permohonan bantuan dari para pejuang devisa yang kini hidup dalam bayang-bayang ketakutan dan eksploitasi.
Dalam video-video pilu yang diterima redaksi, para PMI menceritakan realitas pahit bekerja di negara yang masih dibayangi konflik tersebut. Mereka mengaku terjerat dalam sistem yang memutus akses terhadap keadilan dan perlindungan. Perlakuan buruk dari majikan hingga tindakan intimidasi oleh pihak agensi menjadi “makanan harian” yang harus mereka telan di tengah keterasingan.

Jeritan dari Balik Group WhatsApp
Aktivis pemerhati migran dari Dpnews Indonesia, Doel, yang memantau langsung kondisi mereka melalui grup komunikasi WhatsApp, mengungkapkan rasa prihatin yang mendalam. Menurutnya, kondisi di lapangan sudah masuk dalam kategori “Perbudakan Modern”.
“Keputusasaan sudah berada di titik nadir. Mereka yang masih bisa berkomunikasi menceritakan betapa sulitnya untuk sekadar pulang. Ada tuntutan ribuan dolar dari pihak agensi sebagai syarat pemulangan, sebuah angka yang mustahil dipenuhi oleh pekerja yang hak-haknya saja sudah dirampas,” ujar Doel dengan nada geram.
Lebih mengkhawatirkan lagi adalah nasib para PMI yang kini hilang kontak. Diduga kuat, mereka disekap, alat komunikasinya disita, dan mengalami intimidasi fisik maupun mental setiap saat.
Di sisi lain, pihak keluarga di tanah air hanya bisa meratapi nasib karena keterbatasan ekonomi dan minimnya akses untuk menuntut pertanggungjawaban para oknum pemberangkatan.
Siapa yang Bertanggung Jawab?
Para aktivis yang tergabung dalam Posko Pengaduan Dpnews Indonesia dengan tegas mempertanyakan komitmen pemerintah dalam memberantas sindikat Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) yang menyasar negara-negara berisiko tinggi seperti Irak.
”Sampai kapan belenggu eksploitasi ini dibiarkan? Ini bukan sekadar masalah administrasi migran, ini adalah dugaan kuat TPPO yang terstruktur. Kami mendesak pemerintah dan instansi terkait untuk segera melakukan langkah konkret: evakuasi mereka, selamatkan nyawa mereka dari perbudakan di Irak,” tegas perwakilan aktivis lainnya.
Hingga berita ini diturunkan, Dpnews Indonesia terus melakukan pendataan dan koordinasi dengan berbagai pihak agar suara para PMI ini didengar oleh otoritas tertinggi di Republik Indonesia.
Publik kini menanti, akankah negara hadir untuk menjemput anak-anak bangsa yang sedang “terjual” di negeri orang, ataukah jeritan mereka hanya akan menjadi angin lalu di tengah pusaran bisnis ilegal yang keji?











